Senin, 16 Mei 2011

Dan merekapun "sakit"


Saat saya berfikir betapa temperamentalnya saya, betapa saya bekerja keras mengejar ambisi saya, dan betapa selektifnya saya pada realita, saya merasa mungkinkah saya "sakit"? lalu saya memutar mata saya ke sekitar saya, banyak pelakon lain disana, dengan lakon lakon yang berbeda, mimik muka yang berbeda, bahasa yang berbeda dan ekspresi ekspresi yang beraneka ragam pula, mereka terlihat sama "sakit"nya dengan saya dan bahkan beberapa diantaranya terlihat lebih "sakit" dari saya, dari caranya mengungkapkan, menarik benang merah permasalahan, mencari solusi, bertahan hidup, beradaptasi, mengasumsikan peristiwa, menyimpulkan kejanggalan, dan menetralisirnya dengan keadaan sebenarnya, ketidak mampuan atau ketidak mauan membuat saya mengerutkan dahi saya dan hendak berfikir mengapa daya talar mereka berbeda dengan saya ?

Dan sayapun menemukan fakta lain selain yang biasanya menjadi object konsentrasi saya yaitu perempuan, saya menemukan gejala lain atas ketidak mampuan menerima realita yang dihadapi oleh para laki laki, well... kendati yang saya jadikan bahan observasi tidak sebanyak dan serinci perempuan, object ini mampu membuka mata saya bahwa laki lakipun ternyata memiliki kondisi dimana dia bisa juga over acting, bisa juga culas seperti perempuan, bisa juga menghardik kenyataan, dan bisa juga memiliki dunianya sendiri seperti yang selalu dimiliki para perempuan saat kami tak ingin menerima kenyataan yang terlalu memalukan dan menyakitkan kami...

Dan merekapun "sakit", "sakit" saat usia yang lebih dari cukup tak kunjung membuatnya mapan dan berkomitmen dengan dunia, "sakit" ketika keinginannya melampaui kemampuannya, "sakit" saat kelemahannya terbaca oleh lawan jenisnya, "sakit" saat ia merasa dunia nya bukan bersinggungan dengan makhluk sosial lainnya melainkan dengan pekerjaan saja, dengan zat adiktif saja, dengan alkohol saja, dan ketidak tahuan mereka malah justru membuat mereka semakin tidak ingin tahu dan kenyataan terburuk adalah siap siap terpuruk dengan slogan "thats the way i am" nya yang slalu mereka jadikan tameng, well hey ! siapa yang bersedia mengerti kamu kalau kamu tidak mau beradaptasi dengan kemauan dunia ? kondisi yang jauh lebih memprihatinkan dari seorang laki laki yang terkenal kuat, bersahaja, punya beginning power dan sombong, sungguh jauh memprihatinkan dari pembenaran seorang jalang yang mengatasnamakan kesulitan ekonomi untuk menikmati pekerjaan berkelaminnya...ini semua mulai menjemukan kawan !

Dengan lantang biasanya laki laki selalu mengatakan "well, thats the way i am" jelas itu terdengar saat mereka tak ingin melakukan perubahan apapun dalam dirinya, selama apa yang sudah ada dalam dirinya tidak berpotensi untuk menyesatkan dunia, well take your time as the way you are, dude ! tapi ketika mereka menuntut semuanya dari dunia sementara mereka hanya ingin dunia menerima mereka apa adanya, well men ! let me tell you something, kalau memang mau di terima apa adanya yah berarti harus terima juga sajalah apa yang ada , jangan menuntut banyak kalau ngga mau di tuntut ? bukankah konsekwensi alam bunyinya nyaris serupa ? it's about take and give bahkan terkadang all you have to do is only give and you never get anything ! remember, dunia jauh lebih sombong dari kamu, buddy !

Dan merekapun "sakit" saat mereka bersembunyi di balik ke angkuhan sementara kenyataan sebenarnya mereka tak lebih baik dari seorang pecundang, dan merekapun "sakit" saat kenyataan bukanlah mimpi yang menjadi iming iming hidup mereka selama ini, dan merekapun "sakit" saat mereka tidak bisa membuat komitmen dengan dirinya sendiri, dan merekapun "sakit" saat mereka tahu mereka tak punya potensi untuk mengendalikan dunia, dan merekapun "sakit" saat mereka ingat betapa kerdilnya mereka saat mereka tak sanggup menjadikan orang yang menyayanginya berada selamanya di sisinya, dan mereka pun "sakit" saat menyadari betapa sia sia nya hidupnya mereka saat mereka menyia nyiakan orang yang sebenarnya berpotensi untuk masa depannya yang lebih baik, dan merekapun "sakit" saat mereka merasa lebih rendah dari perempuan...kendati mereka tetap mengenakan mahkota dan jubah kebesarannya, gaya rock and roll yang paling peka jamannya, gaya don juan yang paling cassanovanya, gaya laskar sempak yang membuatnya merasa jagoan...dan seribu satu gaya yang sesungguhnya tak lebih dari implan atau seonggok silikon di balik payudara buatan...hanya untuk menutupi segala kelemahan...Dude ! the biggest think you can do actually is being realistic !

Petitenget, 17/05/2011
2.43 PM

Senin, 09 Mei 2011

Ketika jatuh cinta tak lagi indah


Ketika jatuh cinta tak lagi indah seperti coklat dan ice cream yang tak lagi membuat bergairah, seperti lagu cinta yang makin lama makin banyak elegi, ketika semuanya mulai membosankan, saat paragraf kehilangan kata kata, semua seakan menjadi semu belaka, kehilangan tujuan, bimbang...

Hanya berada di angan, bukan lagi impian, seperti berdiri di persimpangan tanpa penunjuk jalan, tanpa peta, hanya tiupan angin yang mengantar debu debu halus tak berarti, hanya sisa bekal di rantang yang tak lagi membuat perut kenyang tapi sayang kalau di buang, hanya seperti sendirian, tarian dan gelak tawa teman teman tak lagi menyenangkan...hanya seperti sendirian

Bukan juga larut dalam keheningan, suara hiruk pikuk kendaraan di jalan masih terdengar, suara jalangnya malam masih bingar, hanya aku saja seakan terpencar...



Menjadi sendirian, kendati di tengah teman teman, di samping dambaan, di tengah sibuknya pekerjaan, seperti sendirian...

To be continue
Loose my mood 4.09 PM at 09/05/2011

Minggu, 01 Mei 2011

Saya bersedih mendapati asumsi tentang Jihad


Saat saya mencari gambar di google dengan keyword Jihad, betapa miris hati saya melihat gambar gambar yang bermunculan sehubungan dengan kata Jihad adalah gambar gambar manusia mengangkat senjata dengan mengenakan atribut Islam, sedemikian mengerikannya kah asumsi manusia terhadap Jihad saat ini, sehingga bermunculan bule bule tengik dengan pengetahuan sealakadarnya menggembar gemborkan asumsi Jihad dengan ideologi primitif mereka pada insan insan di dunia yang sama sama tidak mengetahui makna Jihad sebenarnya...hal ini membuat saya penasaran mencari ayat-ayat yang berkenaan dengan jihad itu sendiri dan mencari sumber kajian yang bisa dipercaya dan masuk akal untuk memberikan pencerahan mengenai makna jihad sebenarnya, berikut saya temukan salah satu ulasan mengenai jihad dari Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

JIHAD (1/2)

Kebajikan dan keburukan sama-sama bersanding dalam jiwa setiap
manusia.

Allah mengilhami jiwa manusia dengan kedurhakaan dan
ketakwaan.

Begitu firman Allah dalam surat Asy-Syams ayat 8, yang artinya
diri manusia memiliki potensi kebaikan dan keburukan.

Seperti itu jugalah sifat masyarakat dan negara yang terdiri
dari banyak individu. Keburukan mendorong pada
kesewenang-wenangan, sedangkan kebajikan mengantarkan pada
keharmonisan. Saat terjadi kesewenang-wenangan, kebajikan
berseru dan merintih untuk mencegahnya. Dari sanalah
perjuangan, baik di tingkat individu maupun di tingkat
masyarakat dan negara. Demikian itulah ketetapan ilahi.

Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan segala
yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.
Sekiranya hendak membuat suatu permainan, tentulah
Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki
berbuat demikian (tentulah Kami telah melakukannya).
Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang
batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan
serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaan bagi
kamu menyifati (Allah dengan sifat yang tidak layak).
(QS Al-Anbiya' [21]: 16-18)

Islam datang membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan
manusia agar menghiasi diri dengannya, serta memerintahkan
manusia agar memperjuangkannya hingga mengalahkan kebatilan.
Atau seperti bunyi ayat di atas, melontarkan yang hak kepada
yang batil hingga mampu menghancurkannya. Tapi hal itu tak
dapat terlaksana dengan sendirinya, kecuali melalui
perjuangan. Bumi adalah gelanggang perjuangan (jihad)
menghadapi musuh. Karena itu, al-jihad madhin ila yaum
al-qiyamah (perjuangan berlanjut hingga hari kiamat).

Istilah Al-Quran untuk menunjukkan perjuangan adalah kata
jihad. Sayangnya, istilah ini sering disalahpahami atau
dipersempit artinya.

MAKNA JIHAD

Kata jihad terulang dalam Al-Quran sebanyak empat puluh satu
kali dengan berbagai bentuknya. Menurut ibnu Faris (w. 395 H)
dalam bukunya Mu'jam Al-Maqayis fi Al-Lughah, "Semua kata yang
terdiri dari huruf j-h-d, pada awalnya mengandung arti
kesulitan atau kesukaran dan yang mirip dengannya."

Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti "letih/sukar."
Jihad memang sulit dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang
berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata "juhd" yang
berarti "kemampuan". Ini karena jihad menuntut kemampuan, dan
harus dilakukan sebesar kemampuan. Dari kata yang sama
tersusun ucapan "jahida bir-rajul" yang artinya "seseorang
sedang mengalami ujian". Terlihat bahwa kata ini mengandung
makna ujian dan cobaan, hal yang wajar karena jihad memang
merupakan ujian dan cobaan bagi kualitas seseorang.

Makna-makna kebahasaan dan maksudnya di atas dapat
dikonfirmasikan dengan beberapa ayat Al-Quran yang berbicara
tentang jihad. Firman Allah berikut ini menunjukkan betapa
jihad merupakan ujian dan cobaan:

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal
belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara
kamu dan (belum nyata) orang-orang yang sabar (QS Ali
'Imran [3]: 142).

Demikian terlihat, bahwa jihad merupakan cara yang ditetapkan
Allah untuk menguji manusia. Tampak pula kaitan yang sangat
erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah
sesuatu yang sulit, memerlukan kesabaran serta ketabahan.
Kesulitan ujian atau cobaan yang menuntut kesabaran itu
dijelaskan rinciannya antara lain dalam surat Al-Baqarah ayat
214:

Apakah kamu menduga akan dapat masuk surga padahal
belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya (yang
dialami) oleh orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta
diguncang aneka cobaan sehingga berkata Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya. "Bilakah
datangnya pertolongan Allah?" ingatlah pertolongan
Allah amat dekat (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Dan sungguh pasti kami akan memberi cobaan kepada kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang bersabar (QS Al-Baqarah [2]:
155).

Jihad juga mengandung arti "kemampuan" yang menuntut sang
mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi
mencapai tujuan. Karena itu jihad adalah pengorbanan, dan
dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil
tetapi memberi semua yang dimilikinya. Ketika memberi, dia
tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang
dimilikinya habis.

Orang-orang munafik mencela orang-orang Mukmin yang
memberi sedekah dengan sukarela dan mencela juga
orang-orang yang tidak memiliki sesuatu untuk
disumbangkan (kecuali sedikit) sebesar kemampuan
mereka. Orang-orang munafik menghina mereka. Allah
akan membalas penghinaan mereka, dan bayi mereka siksa
yang pedih (QS Al-Tawbah [9]: 79).

Jihad merupakan aktivitas yang unik, menyeluruh, dan tidak
dapat dipersamakan dengan aktivitas lain --sekalipun aktivitas
keagamaan. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai
dengan jihad. Paling tidak, jihad diperlukan untuk menghambat
rayuan nafsu yang selalu mengajak pada kedurhakaan dan
pengabaian tuntunan agama.

Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada
orang-orang yang melaksanakan haji dan mengurus Masjid
Al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan
Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak
memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (QS Al-Tawbah
[9]: 19).

Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri kamu, keluarga, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal
yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik." (QS Al-Tawbah [9]: 24).

Karena itu, seorang Mukmin pastilah mujahid, dan tidak perlu
menunggu izin atau restu untuk melakukannya. Ini berbeda
dengan orang munafik. Perhatikan dua ayat berikut:

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian tidak meminta izin kepadamu (Muhammad Saw.)
untuk berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka.
Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa (QS
Al-Tawbah [9]: 44).

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang)
bergembira di tempat mereka di belakang Rasul, mereka
tidak senang untuk berjihad dengan harta dan diri
mereka di jalan Allah ... (QS Al-Tawbah [9]: 81).

Mukmin adalah mujahid, karena jihad merupakan perwujudan
identitas kepribadian Muslim. Al-Quran menegaskan,

Barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya
untuk dirinya sendiri (berakibat kemaslahatan baginya)
(QS A1-Ankabut [29]: 6).

Maka, jangan menduga yang meninggal di medan juang sebagai
orang-orang mati, tetapi mereka hidup memperoleh rezekinya di
sisi Allah Swt. (baca QS 3: 169). Karena jihad adalah
perwujudan kepribadian, maka tidak dibenarkan adanya jihad
yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Bahkan bila jihad
dipergunakan untuk memaksa berbuat kebatilan, harus ditolak
sekalipun diperintahkan oleh kedua orangtua.

Apabila keduanya (ibu bapak) berjihad
(bersungguh-sungguh hingga letih memaksamu) untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu, yang tidak ada
bagimu pengetahuan tentang itu (apalagi jika kamu
telah mengetahui bahwa Allah tidak boleh
dipersekutukan dengan sesuatu pun), jangan taati
mereka, namun pergauli keduanya di dunia dengan baik
... (QS Luqman [31]. 15).

Mereka yang berjihad pasti akan diberi petunjuk dan jalan
untuk mencapai cita-citanya.

Orang-orang yang berjihad di jalan kami, pasti akan
Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami (QS
Al-Ankabut [29]: 69).

Terakhir dan yang terpenting dari segalanya adalah bahwa jihad
harus dilakukan demi Allah, bukan untuk memperoleh tanda jasa,
pujian, apalagi keuntungan duniawi. Berulang-ulang Al-Quran
menegaskan redaksi fi sabilihi (di jalan-Nya). Bahkan Al-Quran
surat Al-Hajj ayat 78 memerintahkan:

Berjihad di (jalan) Allah dengan jihad
sebenar-benarnya.

Kesimpulannya, jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad
tidak mengenal putus asa, menyerah, kelesuan, tidak pula
pamrih. Tetapi jihad tidak dapat dilaksanakan tanpa modal,
karena itu jihad mesti disesuaikan dengan modal yang dimiliki
dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tercapai dan
selama masih ada modal, selama itu pula jihad dituntut.

Karena jihad harus dilakukan dengan modal, maka mujahid tidak
mengambil, tetapi memberi. Bukan mujahid yang menanti imbalan
selain dari Allah, karena jihad diperintahkan semata-mata demi
Allah. Jihad menjadi titik tolak seluruh upaya; karenanya
jihad adalah puncak segala aktivitas. Jihad bermula dari upaya
mewujudkan jati diri yang bermula dari kesadaran. Kesadaran
harus berdasarkan pengetahuan dan tidak datang dengan paksaan.
Karena itu mujahid bersedia berkorban, dan tak mungkin
menerima paksaan, atau melakukan jihad dengan terpaksa.

MACAM-MACAM JIHAD

Seperti telah dikemukakan, terjadi kesalahpahaman dalam
memahami istilah jihad. Jihad biasanya hanya dipahami dalam
arti perjuangan fisik atau perlawanan bersenjata. Ini mungkin
terjadi karena sering kata itu baru terucapkan pada saat-saat
perjuangan fisik. Memang diakui bahwa salah satu bentuk jihad
adalah perjuangan fisik/perang, tetapi harus diingat pula
bahwa masih ada jihad yang lebih besar daripada pertempuran
fisik, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. ketika beliau baru
saja kembali dari medan pertempuran.

Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad
terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.

Sejarah turunnya ayat-ayat A1 Quran membuktikan bahwa
Rasulullah Saw. telah diperintahkan berjihad sejak beliau di
Makkah, dan jauh sebelum adanya izin mengangkat senjata untuk
membela diri dan agama. Pertempuran pertama dalam sejarah
Islam baru terjadi pada tahun kedua Hijrah, tepatnya 17
Ramadhan dengan meletusnya Perang Badr.

Surat Al-Furqan ayat 52 yang disepakati oleh ulama turun di
Makkah, berbunyi:

Maka jangan kamu taati orang-orang kafir, dan
berjihadlah melawan mereka menggunakan Al-Quran dengan
jihad yang besar.

Kesalahpahaman itu disuburkan juga oleh terjemahan yang kurang
tepat terhadap ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang jihad
dengan anfus dan harta benda. Kata anfus sering diterjemahkan
sebagai jiwa Terjemahan Departemen Agama RI pun demikian
(lihat misalnya ketika menerjemahkan QS 8: 72, 49 :15;
walaupun ada juga yang diterjemahkan dengan diri [QS 9: 88]).
Memang, kata anfus dalam Al-Quran memiliki banyak arti. Ada
yang diartikan sebagai nyawa, di waktu lain sebagai hati, yang
ketiga bermakna jenis, dan ada pula yang berarti "totalitas
manusia" tempat terpadu jiwa dan raganya, serta segala sesuatu
yang tidak dapat terpisah darinya.

Al-Quran mempersonifikasikan wujud seseorang di hadapan Allah
dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Jadi tidak salah
jika kata itu dalam konteks jihad dipahami sebagai totalitas
manusia, sehingga kata nafs mencakup nyawa, emosi,
pengetahuan, tenaga, pikiran, bahkan waktu dan tempat yang
berkaitan dengannya, karena manusia tidak dapat memisahkan
diri dari kedua hal itu. Pengertian ini, diperkuat dengan
adanya perintah dalam Al-Quran untuk berjihad tanpa
menyebutkan nafs atau harta benda (antara lain QS Al-Hajj:
78).

Pakar Al-Quran Ar-Raghib Al-Isfahani, dalam kamus A1-Qurannya
Mu'jam Mufradat Al-Fazh Al-Quran, menegaskan bahwa jihad dan
mujahadah adalah mengerahkan segala tenaga untuk mengalahkan
musuh. Jihad terdiri dari tiga macam: (1) menghadapi musuh
yang nyata, (2) menghadapi setan, dan (3) menghadapi nafsu
yang terdapat dalam diri masing-masing. Ketiga hal di atas
menurut Al-Isfahani dicakup oleh Firman Allah:

Berjihadlah demi Allah dengan sebenar-benarnya jihad
(QS Al-Hajj [22]: 78).

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad dengan harta dan diri mereka di
jalan Allah, hanya mengharapkan rahmat Allah (QS
Al-Baqarah [2]: 218).

Rasulullah Saw. bersabda, "Jahiduw ahwa akum kama tujahiduna
'ada akum" (Berjihadlah menghadapi nafsumu sebagaimana engkau
berjihad menghadapi musuhmu). Dalam kesempatan lain beliau
bersabda, "Jahidu Al-kuffar ba aidiykum wa al-sinatikum"
(Berjihadlah menghadapi orang-orang kafir dengan tangan dan
lidah kamu).

Pada umumnya, ayat-ayat yang berbicara tentang jihad tidak
menyebutkan objek yang harus dihadapi. Yang secara tegas
dinyatakan objeknya hanyalah berjihad menghadapi orang kafir
dan munafik sebagaimana disebutkan Al-Quran surat At-Taubah
ayat 73 dan At-Tahrim ayat 9.

Wahai Nabi, berjihadlah menghadapi orang-orang kafir
dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahannam
dan itu adalah seburuk-buruk tempat.

Tetapi ini tidak berarti bahwa hanya kedua objek itu yang
harus dihadapi dengan jihad, karena dalam ayat-ayat lain
disebutkan musuh-musuh yang dapat menjerumuskan manusia
kedalam kejahatan, yaitu setan dan nafsu manusia sendiri.
Keduanya pun harus dihadapi dengan perjuangan.

Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena
sesungguhnya dia merupakan musuh yang nyata bagimu (QS
Al-Baqarah [2]: 168).

Hawa nafsu pun diperingatkan agar tidak diikuti sekehendak
hati.

Siapa lagi yang lebih sesat daripada yang mengikuti
hawa nafsunya, tanpa petunjuk dan Allah? (QS
Al-Qashash [28]: 50).

Nabi Yusuf diabadikan Al-Quran ucapannya:

Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena
sesungguhnya (hawa) nafsu selalu mendorong kepada
kejahatan kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku (QS
Yusuf [12]: 53)

Jelaslah, paling tidak jihad harus dilaksanakan menghadapi
orang-orang kafir, munafik, setan, dan hawa nafsu.

Dapat dikatakan bahwa sumber dari segala kejahatan adalah
setan yang sering memanfaatkan kelemahan nafsu manusia. Ketika
manusia tergoda oleh setan, ia menjadi kafir, munafik, dan
menderita penyakit-penyakit hati, atau bahkan pada akhirnya
manusia itu sendiri menjadi setan. Sementara setan sering
didefinisikan sebagai "manusia atau jin yang durhaka kepada
Allah serta merayu pihak lain untuk melakukan kejahatan."

Menghadapi mereka tentunya tidak selalu harus melalui
peperangan atau kekuatan fisik. Tapi pada saat yang sama perlu
diingat bahwa hal ini sama sekali bukan berarti bahwa jihad
fisik tidak diperlukan lagi --sebagaimana pandangan kelompok
Qadiyaniah dari aliran Ahmadiah.

Seluruh potensi yang ada pada manusia harus dikerahkan untuk
menghadapi musuh, tetapi penggunaan potensi tersebut harus
juga disesuaikan dengan musuh yang dihadapi.

BERJIHAD MENGHADAPI MUSUH

Allah Swt. memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan dan
mengatur strategi menghadapi musuh sebelum berjihad. Salah
satu hal yang membantu tercapainya kemenangan adalah
pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan musuh, serta tipu
dayanya. Karena itu pula Al-Quran banyak menguraikan
sifat-sifat setan, nafsu manusia, orang kafir, dan orang
munafik.

Al-Quran dan hadis Nabi Saw. juga memberi petunjuk tentang
cara menghadapi setan dan nafsu manusia, serta petunjuk
mengenai batasan-batasan jihad dengan menggunakan senjata.

---------------- (bersambung 2/2)
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan

Jumat, 22 April 2011

Laskar kutang dan celana dalam


Mereka bukan perawan

Mereka hanya ingin menjadi hartawan

Mereka ingin pergi jalan jalan

Namun apa daya hanya mampu bermodal daleman



Di mata lelaki mereka adalah korban

Di mata perempuan mereka hanya membuat pilihan

Karena aku perempuan, dengan segala keterbatasan

Namun aku tak membuat profesi itu sebagai pilihan

Lantas mengapa mereka membuat itu jadi pilihan ?

Karena ketebatasan ? cuih ! itu terlalu klise untuk dijadikan alasan !



Mereka perempuan bukan perawan

Mereka pemenang aktris terbaik pilihan hidung belang yang suka jajan

Mereka sutradara terbaik untuk cerita kategori mengais belas kasihan

Mereka pemilih kambing hitam terbaik saat keberadaannya di kaitkan dengan penggunanya yang sama edan !

Mereka selalu teriak mereka adalah korban, korban para lelaki munafik yang bak pengguna kecanduan

Lantas bila mereka memang korban, mengapa tidak berlari ? mengapa bukan sembunyi ? mengapa malah bertahan ?

Apakah karena germo germo mereka memiliki tukang pukul hingga ribuan ?

Apakah karena mereka bak budak belian atau tahanan ?

Lalu bagaimana dengan mereka yang di jalanan ?



Klise sudah cerita usangmu perempuan !

Di depan lelaki kau selalu mendongeng tentang penyesalan

Di depan perempuan, kau hancurkan kepercayaan

Kau nodai pernikahan, kau porak porandakan sebuah hubungan



Di depan lelaki kau bagai anjing manis makan nasi pakai piring

Di depan perempuan kau selayaknya iblis bengis makan piring pakai nasi

Apakah kau lupa sesama perempuan hafal benar cara mu akting

Karena sesama perempuan sama sama hafal bagaimana kau bermanipulasi



Karena itu kau hanya menjadi korban di depan lelaki

Karena kau tahu benar sesama perempuan akan membaca intrikmu bak kelakuannya sendiri



Lelaki yang terlalu naif terlalu bodoh atau terlalu tidak tahu diri

Hanya hidup dengan memanjakan nafsu birahi

Mencari pembenaran bahwa nafsu lelaki membuat tidak bisa menahan diri

Rela menggunakan alasan agama hanya untuk berpolygami



Perempuan sialan, perempuan bodoh atau perempuan tidak tahu diri

Mencari pembenaran atas pilihan edan, demi untuk jajan bak jutawan

Demi untuk pergi jalan jalan, demi untuk sekantung belanjaan

Demi untuk membeli kekuatan, demi untuk bisa membayar preman

Demi untuk operasi silikon di balik kutang seharga satu jutaan

Demi untuk di eluk elukan dan di nobatkan sebagai hartawan



Dan mereka memilih menjadi sukarelawan kantung menyan para lelaki sialan

Sukarelawan...alias SUKA RELA dan tidak melaWAN selama ada uang dari tuan...

Apakah mereka masih menjadi korban ?

Bernyanyi tentang penyesalan dengan tembang andalan tidak ada pilihan...

Perempuan Perempuan Sialan


Perempuan perempuan sialan
Selalu mencari pembenaran
Mulut nyinyir menyakitkan
Berdalih minta pengertian

Perempuan perempuan sial dangkalan
Hati iri di bilang perduli
cari perhatian bilangnya kasihan
bikin asumsi sendiri jadi manipulasi

Perempuan perempuan curang
ambisi ketakutan kesempatan hilang
sebar pitnah bukan kepalang
pasang muka melas biar terlihat malang

Perempuan perempuan kampret babi ngepet !
Habis nyakitin orang dia langsung mampret
Bilangnya butuh pengertian kalau lagi kepepet
Padahal cari keuntungan sambil mepet mepet

Perempuan curang
sukanya nyakitin orang
beraninya ngomong di belakang
karena takut di kemplang
Dasar pecundang !



Saat perempuan curang akting melas bikin perut mulas ! Bikin Kartini kecanduan martini...
11.15 AM 23/04/2011

Minggu, 03 April 2011

aku dan aku lalu aku kemudian aku


Istri dibunuh suaminya sendiri karena terbakar cemburu, anak bunuh ayahnya sendiri karena tak suka perlakuan ayahnya yang dianggap tak adil, lantas apa yang mesti aku lakukan saat dunia tak adil padaku ? saat aku cemburu akan dunia yang terlalu indah untuk semua orang namun tidak untukku ? aku hanya diberi kesempatan untuk bertahan hidup dan tahu diri, harus aku yang sadar diri, hufft, seakan darahku mendidih dan otakku mulai meleleh, semua persendianku remuk redam, memendam hasrat untuk mencongkel keluar kedua bola mata yang kerap memelototiku, memangkas habis setiap telunjuk yang menunjuk mukaku dan menyobek mulut mulut yang kerap kali menyalahkanku...yah seandainya aku bisa melakukannya, tentunya sekian banyak koleksi organ tubuh berceceran sudah kupajang serupa hiasan antik di rumahku, melebihi koleksi legendaris Hitler, si sakit jiwa yang brilian, kapan aku bisa menjadi dia ? brilian, huh...sakit jiwa sudah barang tentu, tapi brilian ? rasanya aku masih terlalu baik untuk menjadi brilan, buktinya saja semua masih bisa memanfaatkanku, membodohi aku, dan menggunakan aku selayaknya samsak yang bisa mereka tuding bejat agar mereka terlihat hebat, dan yang tersisa dari aku hanyalah tinggal seonggok cerita usang, hasil karya cinta semu sepasang manusia yang kehilangan indetitasnya, laki laki sok kaya berhidung besar keturunan arab betawi yang butuh pengakuan akan keberhasilannya dan seorang perempuan temperamental bermata coklat yang nyaris mirip aku, yah ibu dan bapakku... maaf...aku harus mengatakan begitu tentang kalian...aku tahu kalian berusaha keras menjadikan semua hasil karya kalian indah dipandang masa, tapi tidak aku, aku yang satu ini mungkin lebih radical dari yang lainnya, aku yang ini kehilangan jati diri, aku yang satu ini hanya sebuah karya usang yang compang camping, aku yang ini hanya kehilangan jejaknya sendiri...
Dan aku, hingga aku menulis cerita ini, aku masih kehilangan akal sehatku, menyusupi sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, aku...dan aku...lagi lagi aku...kemudian aku dan aku tinggalah aku yang tak tahu apa apa tentang diriku sendiri, aku mencibir sekarang saat seorang perempuan yang mengaku sahabat meneriakan bahwa dia tahu aku, bahkan hingga kini aku sendiripun tak tahu aku ini apa ? sekumpulan organ tubuh berupa empedu, lambung, hati bila masih ada, otak bila masih berfungsi dan organ organ lainnya yang aku saja belum tentu tahu benar apa fungsinya..fuih...aku benar benar tak mengenali diriku sendiri...Tuhan, Ibu, Bapak...apa sebenarnya misi kalian menciptakan aku...hidupku tak terlalu menyenangkan...hidupku dimulai dari hal yang semua orang tak inginkan, seperti ungkapan yang paling sering kubunyikan, ngga ada yang istimewa jauh dari sempurna.
Jam mulai berdetak cepat menuju hari berikutnya, aku masih mengetik huruf huruf yang terangkai tak jelas juntrungannya...entah ada misi apa lagi esok hari ? aku bahkan menulis di tempat yang belum mengenalku sama sekali, tik tok tik tok, itu bukan suara detik jam, itu suara detakan nadiku sendiri berlomba dengan suara jariku yang loncat sana loncat sini, sama seperti otakku yang lagi lari entah kemana...aku menghela nafas seakan ini nafas terberat yang sudah lelah berhembus, entah berapa hembusan lagi tersisa hingga detik ini...malaikat masih memegang kontrak hidupku kan ?

Sabtu, 02 April 2011

Dan Realita


Dan realita...betapa ku harus mencintainya...
Dan aku telah membohongi diriku sendiri dengan begitu indah, aku membohongi seluruh hidupku bahwa tak ada yang lebih indah dari sebuah realita, dan akupun menjadi serakah pada hidupku sendiri, aku khianati perasaanku sendiri, aku buat diriku menjadi begitu egois begitu merasa benar tentang mengataskan realita di atas segalanya, tak ada yang lain selain realita, cita cita bagian dari realita, masa depan bagian dari realita, mimpi bagian dari realita, hanya realita saja hanya realita yang sanggup membuatku hingga amnesia, melupakan bagian lain yang harusnya ada, hingga tak ada tempat lagi, tak tersisa secuilpun tempat selain untuk realita, dan aku membutakan mata hatiku, hanya sadar realita.Dan akulah pembohong, pembohong terhebat yang mampu melawan diriku sendiri, tak ada yang sanggup mengalahkan aku selain aku sendiri, akulah si hebat, si pembohong sial dangkalan, menipu seluruh hidupku sendiri, bersikukuh bahwa hidup hanya perlu realita saja, hidup tidak perlu mimpi, mimpi itu penipu, kuyakinkan diri ku sendiri bahwa mimpi hanya ilusi, mimpi itu hanya bayang semu, yang terbias karena cahaya dan sebentar saja hilang, itu hanya iming iming bukan nyata, nyata itu realita, betapa kejinya aku meyakinkan diriku bahwa aku tak berhak mengharapkan apapun dan tak perlu bermimpi, hanya satu di dalam hidup ini dan itu adalah realita saja, fuck off with the feeling, perasaan itu tidak punya mata, perasaan itu tidak berjiwa, perasaan itu ilusi, itu seperti mimpi, butakan saja rasa, jalani realita, itu yang akan membuat derajatku lebih tinggi, realita yang akan membuat hidupku lebih baik, bukan mimpi, bukan rasa apalagi cinta, cinta itu hanya sebuah rasa yang salah di buat Tuhan, cinta itu hanya kekonyolan dunia, cinta itu hanya lelucon buatan dunia, hanya membodohi saja, begitu diriku meyakinkanku tentang cinta, aku memekik saat mengatakannya seakan meyakinkan bahwa cinta itu hanya omong kosong, cinta itu produk gagal !

Dan aku kinipun mengais belas kasihan dunia, aku meratapi realita, realita tak berhasil menutup semua mata hatiku, aku tetap mendambakan cinta, kendati tersembunyi di dasar hati yang terdalam, terbalut kemunafikan sebuah egosentris yang tak bisa ku kontrol saat dia mencabik cabik semua rasa yang tersisa, egosentris yang memporak porandakan diriku sendiri, hanya bersiteru dengan diri sendiri, bukan menyalahkan dunia, bukan minta pertanggung jawaban pada orang yang duduk di depan, bukan merengek pada orang yang berdiri di sebelah, bukan merajuk pada orang di seberang, bukan menuding pada orang di atas genteng, bukan mengeluh pada orang di tangga, bukan memekik pada orang yang lalu lalang, hanya pada diri sendiri, hanya memaki diri sendiri, hanya menjerit dan mengumpat sendiri, hanya dengan diri sendiri, membuat perlawanan terberat, melawan diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, meminta maaf pada diri sendiri, mengocehi diri sendiri, menangisi diri sendiri, mentertawakan diri sendiri, membodohi diri sendiri, bicara pada bayangan sendiri, meludahi refleksi wajah di kaca di depan tempat ku berdiri, mengiba pada lelahnya hati yang terbungkus ambisi realita, bersimpuh minta ampun pada arogannya realita, hingga suatu saat terbujur kaku tanpa pernah merasa, atau berakhir terbahak dengan belitan jaket putih Rumah Sakit Jiwa, atau teriak dan histeris di pinggir jalan raya, atau berakhir di panti jompo dengan seutas kain dan jarum jahit, atau menggantung diri, atau pergi naik haji dan ceramahi setiap orang yang lewat depan rumah, atau pergi naik delman keliling dunia, atau terbang tinggi dalam ilusi sambil menghisap ganja, atau mencari belati untuk membuat drama bunuh diri, atau naik ke atas menara...apa saja hingga semua orang menjadikanku pusat perhatian seperti yang kerap kali di lakukan kebanyakan perempuan di dunia, menjadi cantik sendiri, kalau ada perempuan lain jadi ancaman buru buru doktrin perempuan lainnya lagi untuk ikut meludahi perempuan yang akan menjadi ancaman itu agar tetap cantik sendiri, atau berlari bawa sepatu cari diskonan, atau mencari palu untuk di getok di kepala kepala tumpul yang membuat otaknya mubadzir, atau pergi membina perempuan perempuan binal di penjara, atau pergi dengan gergaji mesin untuk menggorok leher leher jagoan yang bikin ormas premanisme, atau bawa bor untuk melubangi mata mata koruptor, atau hanya berlari tanpa henti sendiri dengan kaca mata kuda, terus berlari sampai mati hingga ke ujung dunia, atau tenggelam di dasar samudera, dan gentayangan menjadi setan yang mengeksekusi perempuan mau cantik sendiri yang suka mengintimidasi, preman preman sial dangkalan yang sok jagoan, koruptor dan semua keturunannya yang banyak tingkah, perempuan perempuan binal yang merugikan, laki laki pengkhianat yang gemar polygami, biar mampus semua...dan kembali terbang lalu menghilang, menyudahi semua kotoran dan sampah dunia, dan jadi pahlawan saja...atau menjadi gila...karena realita ternyata benar mimpi itu gila...mimpi itu ilusi, mimpi itu konyol, lihatlah mimpiku barusan, saat jadi eksekutor dan apalah...betapa mimpi memang membuat sakit jiwa...itu mengapa realita mengajakku kembali padanya...hanya realita...hanya perlu mencintai realita saja...

Sebuah realita tak kan pernah terkalahkan...
Cinta akan pergi saat uang tak cukup lagi menghidupi,
cinta akan mati saat kecerdasan berhenti
cinta akan polygami saat kulit mulai keriput, tete mulai peot.
Namun realita akan selalu menerima bahkan disaat seluruh dunia menjauh
Realistis adalah the way how to do ikhlas !

20.07 PM Pondok Sunari 23.03.2011, Kerobokan 95 Kuta-Bali